Bila kita mundur
kebelakang mengkaji kebijakan pembangunan antara Jawa dan luar Jawa,maka sejak
zaman penjajahan Belanda hingga awal kemerdekaan.Ternyata pulau Jawa mendapat
alokasi dana yang jauh lebih besar dari luar pulau Jawa.Pada awal
kemerdekaan,82% total perolehan devisa nasional , bersumber dari hasil
perkebunan dan hasil hutan Sumatera serta dari daerah Indonesia
lainnya.Ironinya,80% dana tersebut di manfaatkan untuk investasi(pembangunan)
di Jawa,20% untuk daerah di luar jawa.
Demikian pula pada masa orde baru,kegiatan pembangunan
tetap berkonsentrasi di pulau Jawa,sehingga kurang berpengaruh terhadap
penyebaran penduduk ke luar jawa.Misalnya,pada tahun 1960-an,Papua kepadatan
penduduknya hanya mencapai 0,62 orang/KM2.perlakuan yang sama juga pada barat
lainnya ,seperti sumatrera dan hasil migas Aceh Utara saja ,telah memberi
kontribusi sebanyak 25% total APBN masa itu,namun sumbangan besar tersebut
tidak mampu untuk mensejahterakan penduduk . Kenyataannya,60% penduduk setempat
hingga saat ini masih tergolong masyarakat prasejahtera.
Hingga berakhirnya rezim Orde Baru,alokasi dana tetap
lebih besar berputar di jakarta dan pulau Jawa pada umumnya,pembangunan kawasan
Indonesia Timur hanya menjadi slogan yang sulit terwujud.Janji-janji live service dari para penguasa sering di kumandangkan
hanya sebagai penyedap pendengaran.
Ada beberapa hal yang mendasar dalam melaksanakan
pembangunan di Kawasan Indonesia Timur,yakni rendahnya mutu sumber daya manusia
dan buruknya infrastruktur ekonomi.Kedua hal ini menjadi penghambat yang sangat
mendasar sehingga kendati saat ini UU NO 22 / 1999 telah digulirkan,namun tidak
serta merta Kawasan Indonesia Timur dapat tumbuh dengan pesat dan bisa sejajar
dengan daerah-daerah di pulau jawa yang telah lebih dahulu mencuri start.
The Sleeping Gian begitu orang
menyebut Kawasan Indonesia Timur,pada nama itu tersirat makna besarnya potensi
yang dimiliki kawasan ini.Namun raksasa tidur tidak akan pernah bangun tanpa
adanya dukungan sumber daya manusia dan modal yang cukup.Kemungkinan besar
raksasa tidur tersebut harus terus di biarkan tidur,karena pembangunan raksasa
identik dengan menyerahkan jatah makanan kita kepada raksasa tersebut.Dan bila
tidak cukup,maka kitapun akan dimangsanya,bahkan ia dapat menjadi penguasa atas
lainnya.
Karena itu,dalam artikel ini memberikan penyadaran kepada
Masyarakat di Kawasan Indonesia Timur,supaya tidak terlalu lelap dalam
tidurnya.Semoga dengan Artikel ini, dapat menjadi penerang Kawasan Wilayah
Indonesia Timur di malam hari,sekaligus sebagai pencerahan pemikiran politik
dan budaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar