Jumat, 11 Januari 2019

MEMBANGUN KAWASAN INDONESIA TIMUR


          Bila kita mundur kebelakang mengkaji kebijakan pembangunan antara Jawa dan luar Jawa,maka sejak zaman penjajahan Belanda hingga awal kemerdekaan.Ternyata pulau Jawa mendapat alokasi dana yang jauh lebih besar dari luar pulau Jawa.Pada awal kemerdekaan,82% total perolehan devisa nasional , bersumber dari hasil perkebunan dan hasil hutan Sumatera serta dari daerah Indonesia lainnya.Ironinya,80% dana tersebut di manfaatkan untuk investasi(pembangunan) di Jawa,20% untuk daerah di luar jawa.
            Demikian pula pada masa orde baru,kegiatan pembangunan tetap berkonsentrasi di pulau Jawa,sehingga kurang berpengaruh terhadap penyebaran penduduk ke luar jawa.Misalnya,pada tahun 1960-an,Papua kepadatan penduduknya hanya mencapai 0,62 orang/KM2.perlakuan yang sama juga pada barat lainnya ,seperti sumatrera dan hasil migas Aceh Utara saja ,telah memberi kontribusi sebanyak 25% total APBN masa itu,namun sumbangan besar tersebut tidak mampu untuk mensejahterakan penduduk . Kenyataannya,60% penduduk setempat hingga saat ini masih tergolong masyarakat prasejahtera.
            Hingga berakhirnya rezim Orde Baru,alokasi dana tetap lebih besar berputar di jakarta dan pulau Jawa pada umumnya,pembangunan kawasan Indonesia Timur hanya menjadi slogan yang sulit terwujud.Janji-janji  live service  dari para penguasa sering di kumandangkan hanya sebagai penyedap pendengaran.
            Ada beberapa hal yang mendasar dalam melaksanakan pembangunan di Kawasan Indonesia Timur,yakni rendahnya mutu sumber daya manusia dan buruknya infrastruktur ekonomi.Kedua hal ini menjadi penghambat yang sangat mendasar sehingga kendati saat ini UU NO 22 / 1999 telah digulirkan,namun tidak serta merta Kawasan Indonesia Timur dapat tumbuh dengan pesat dan bisa sejajar dengan daerah-daerah di pulau jawa yang telah lebih dahulu mencuri start.
            The Sleeping Gian begitu orang menyebut Kawasan Indonesia Timur,pada nama itu tersirat makna besarnya potensi yang dimiliki kawasan ini.Namun raksasa tidur tidak akan pernah bangun tanpa adanya dukungan sumber daya manusia dan modal yang cukup.Kemungkinan besar raksasa tidur tersebut harus terus di biarkan tidur,karena pembangunan raksasa identik dengan menyerahkan jatah makanan kita kepada raksasa tersebut.Dan bila tidak cukup,maka kitapun akan dimangsanya,bahkan ia dapat menjadi penguasa atas lainnya.
            Karena itu,dalam artikel ini memberikan penyadaran kepada Masyarakat di Kawasan Indonesia Timur,supaya tidak terlalu lelap dalam tidurnya.Semoga dengan Artikel ini, dapat menjadi penerang Kawasan Wilayah Indonesia Timur di malam hari,sekaligus sebagai pencerahan pemikiran politik dan budaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar